JOMBANG, Bangjo.co.id – Tips puasa sehat untuk ibu hamil menjadi pertanyaan yang kerap muncul setiap bulan Ramadan.
Lalu, bolehkah ibu hamil puasa Ramadan?. Dokter kandungan di RSUD Jombang, dr. Sulistyowati SpOG, menegaskan bahwa ibu hamil boleh menjalankan ibadah puasa, namun dengan syarat tertentu.
“Jawabannya boleh, asal dengan catatan kehamilannya berisiko rendah dan janin maupun ibu dalam kondisi sehat. Keduanya harus dalam kondisi yang baik,” kata dr. Sulistyowati, Rabu (4/3/2026).
Lebih lanjut ia mengatakan terkait puasa saat hamil trimester 1, 2, dan 3, ia menjelaskan bahwa kondisi kesehatan ibu dan janin menjadi faktor utama penentu aman atau tidaknya berpuasa.
Menurutnya, pada trimester pertama, ibu hamil biasanya masih sering mengalami mual dan muntah.
“Kalau mengalami dehidrasi, mual berat, dan kekurangan cairan, sebaiknya tidak dianjurkan untuk berpuasa,” jelasnya.
Sementara pada trimester kedua, kondisi ibu hamil umumnya lebih stabil.“Trimester kedua biasanya lebih aman. Mual berkurang, nafsu makan sudah baik, kondisi ibu stabil. Kalau seperti itu boleh berpuasa,” ujarnya.
Sedangkan pada trimester ketiga, ibu hamil perlu lebih waspada. Kebutuhan nutrisi meningkat dan produksi air ketuban bisa menurun. “Trimester ketiga harus lebih berhati-hati. Jika kondisi tidak optimal, sebaiknya tidak memaksakan diri,” tegasnya.
Dokter spesialis obstetri dan ginekologi itu menegaskan beberapa kondisi ibu hamil yang tidak dianjurkan puasa, antara lain, mengalami anemia, mengidap preeklamsia, dan sering mengalami kontraksi, gerak janin tidak normal. Termasuk jumlah Air ketuban menurun atau pertumbuhan janin yang terganggu.
“Jika kondisi janin tidak normal atau air jumlah ketuban menurun, maka ibu hamil sebaiknya tidak berpuasa,” katanya.
Ia menegaskan bagi ibu hamil yang tetap ingin menjalankan puasa Ramadan, kebutuhan cairan harus benar-benar tercukupi saat berbuka dan sahur.
Ia juga mengingatkan agar menghindari makanan tinggi gula saat berbuka.“Hindari makanan dengan kadar gula tinggi saat berbuka. Ini bisa memperburuk kondisi janin, bahkan berisiko fatal,” tuturnya.
Selain itu, ibu hamil wajib memantau gerak janin secara rutin. “Gerak janin harus benar-benar dipantau. Cara menghitungnya bisa dikonsultasikan langsung ke dokter kandungan,” jelasnya.
Dalam memenuhi nutrisi saat sahur, dr. Sulistyowati menyarankan agar ibu hamil tidak mengonsumsi karbohidrat sederhana secara berlebihan. “Kurangi roti dan kue. Pilih makanan tinggi serat seperti beras merah. Protein bisa dari ikan, telur, daging, unggas (ayam), lemak sehat bisa didapatkam dari alpukat,” sarannya.
Pihaknya pun menegaskan bahwa secara syariat Islam, ibu hamil memang tidak diwajibkan menjalankan puasa Ramadan apabila kondisi kesehatan tidak memungkinkan.
“Dalam ajaran Islam, ibu hamil tidak diwajibkan berpuasa. Yang terpenting adalah keselamatan ibu dan janin. Jangan memaksakan diri,” tegasnya.
Ia pun menutup dengan imbauan agar ibu hamil selalu berkonsultasi dengan dokter kandungan sebelum memutuskan berpuasa. “Silakan konsultasi terlebih dahulu agar bisa dipantau dengan baik. Intinya jangan memaksakan diri,” pungkasnya.






